Friday, April 16, 2010

Meruntuh Pyramid Hati


Firman Allah swt dalam surah Arra’du ayat 11:

لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

yang bermaksud : “ sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri “.
Hadits rasul saw yang bermaksud : ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging, apabila ianya baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila ianya rosak maka rosaklah seluruh jasad, ianya adalah hati. ( riwayat Bukhari dan Muslim ).
Yang dimaksudkan hati dalam hadits ini adalah hati dari segi ma’nawi atau dalaman dari jiwa insan itu sendiri, tidak ada seseorang pun yang mengetahuinya melainkan Allah swt.
Sebenarnya tumpuan atau fokus dan sasaran tarbiyah adalah hati, oleh itu dalam menjalani proses tarbiyah kita harus sentiasa menyediakan hati, terutama dalam setiap kali pertemuan tarbawi yang kita ikuti. Penyediaan hati ini terlalu penting karena menentukan sampai atau tidaknya tarbiyah kepada sasarannya. Berapa ramai mereka yang mengikuti program tarbawi tetapi tidak menyediakan hati maka laksana mengukir diatas air, Sedikit atau ramai bilangan bukanlah menjadi neraca penilaian kita akan tetapi bersedia atau belum bersediakah hati seseorang menerima tarbiyah itu sendiri.
Kalaulah boleh ana ibaratkan disini, ketika melihat Pyramid dan sungai Nil di Mesir ini terkadang ana berfikir bahwa jika seseorang itu ingin menerima siraman tarbawi maka terlebih dahulu dia harus meruntuhkan Pyramid yang ada pada hatinya dan merobahnya menjadi lembah sungai Nil.
Sebanyak apapun air yang yang dituangkan diatas puncak Pyramid itu namun air tidak akan bertahan diatas puncak, air mengalir kebawah, Pyramid tetap kering, puncaknya tetap meruncing meninggi diri. Lain pula halnya dengan lembah sungai Nil dengan kerendahan hati sentiasa bersedia menerima. Airnya tetap tenang, bahkan memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia, sehingga ada yang mengatakan kalaulah tidak ada sungai Nil maka tidak ada pula Mesir.
Jadi, selama seseorang itu tidak meruntuhkan Pyramid hatinya dan merobahnya dengan lembah sungai Nil, maka selama itu juga dia akan sukar menerima tarbiyah atau hatinya belum bersedia menerima tarbiyah itu sendiri.
Hati kita harus menyerah sepenuhnya kepada tarbiyah ( Islamiyah ) barulah akan membawa perubahan terhadap diri. Kita perlu berjanji dengan Allah dengan satu perasaan yang penuh yaqin bahwa kita tidak berada dalam keadaan terpaksa ataupun dipaksa untuk menerima tarbiyah ataupun melaksanakan tarbiyah, karena kita merasa tarbiyah ini adalah sebahagian daripada kehidupan sepertimana udara dan air, karena kesehatan iman kita bergantung kepada tarbiyah, tarbiyah kita kurang berkesan di antaranya adalah di sebabkan hati yang kurang persediaan.
Kalau hati sudah terpaut dengan tarbiyah niscaya hati akan mudah dirasuk hidayah. Semoga Allah swt menetapkan hati – hati kita berada dalam tarbiyah islamiyah ini dan diberi kekuatan juga kemampuan untuk sentiasa berusaha merobah diri kearah yang lebih baik dalam meningkatkankan ketaatan dan memperkukuh hubungan dengan Allah swt.

Oleh:
ibn_rum@yahoo.com
Related Posts with Thumbnails