Wednesday, March 24, 2010

SYAKHSIYAH MUSLIM


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sahabat2 sekalian ya dirahmati Allah swt !
Pertama-tama dan buat selama -lamanya marilah kita merafa’kan syukur yang setinggi-tingginya kehadhirat Allah swt karena dengan limpah karunia dan izinNya kita masih mendapat peluang untuk mengecapi nikmat kehidupan. Yang mana hidup ini sendiri adalah merupakan suatu nikmat yang patut kita syukuri, karena dengannya kita masih memiliki kesempatan untuk menambah bekalan pulang menghadap Allah swt. Walaupun kehidupan di dunia ini hakikatnya terlalu singkat dan sekejap akan tetapi sangat menentukan bahagia atau tidaknya kita kelak di akhirat.
Seterusnya shalawat dan salam sentiasa kita hadiahkan keharibaan junjungan kita nabi besar Muhammad saw.
Pada kesempatan yang berbahagia ini ana ingin menyentuh beberapa perkara yang berkaitan dengan Syakhsiyah Muslim atau dalam bahasa kita di sebut dengan Keperibadian Muslim.
Memang kalau kita lihat kepada masyarakat kita hari ini sama ada dia bersifat masyarakat ataupun sebagai anggota-anggota masyarakat itu sendiri yang terdiri daripada orang-orang islam, bukanlah kita ingin cuba menafikan sesuatu yang mungkin, kalau sekiranya diteliti halus-halus dan dibandingkan dengan apa yang telah ditunjuk ataupun dijelaskan dan ditarbiyahkan oleh junjungan kita Muhammad saw terhadap para sahabat ra maka kita dapati dari segi syakhsiyah ini sama ada dari segi syakhsiyah jamaiyah atau dari segi syakhsiyah fardiyah memang didapati berbeza, dan mungkin sukar pada masakini kita ingin dapati sama ada jamaah atau individu suatu syakhsiyah yang menepati kehendak Din Islam.
Dan ini tidaklah aneh karena kita tahu bahwa dari segi sejarah kita dapati bahwa umat islam itu sendiri melalui berbagai-bagai keadaan dan pergulatan. Dan kita tahu juga bahwa musuh-musuh islam sentiasa berusaha dan merancang merusak umat islam itu sendiri khususnya dari segi syakhsiyahnya.
Jadi, bilamana umat islam dan juga anggota-anggota dalam masyarakat, keluarga itu sendiri tidak memiliki Syahksiyah Islamiyah dalam arti sebenarnya maka timbullah keadaan-keadaan atau permasalahan-permasalahan dalam kehidupan umat islam itu sendiri.
Masing-masing mentafsirkan Syakhsiyah mengikut pendapat atau fikiran masing-masing, ‘’ini orang bersyakhsiyah’’, ‘’orang ini bagus pandai bergaul, boleh bercampur dalam macam-macam keadaan dan suasana’’, ada pula yang melihat ‘’orang ini wara’ punya syakhsiyah tinggi’’, ada pula yang menilai “ini orangnya ibadahnya kuat sembahyang tahjjud selalu, dan macam-macam lagi penilaian dalam menilaikan Syakhsiyah dengan penilaian dan selera masing-masing.
Jadi,gambaran Syakhsiyah Islamiyah yang sebenarnya itu tidak jelas, kecuali manakala kita kembali melihat kepada junjungan kita Muhammad saw dan para shahabat ra maka barulah kita akan nampak dari segi kejelasan Syakhsiyah Islamiyah dalam arti kata sebenarnya. Adakah kita hanya ingin lihat dari sudut ibadat semata-mata, atau dari sudut pergaulan, percakapan, pakaian Sebab itu bilamana Sayyidatuna ‘Aisya ra ditanya bagaimana akhlaq ataupun syakhsiyah rasul saw, maka Sayyidatuna ‘Aisyah dengan ringkas menjawab ‘’khuluquhu Alquran’’ akhlaknya atau peribadinya ialah Alquran Al Karim.
Walaupun jawapan Sayyidatina ‘Aisyah amat ringkas ‘’Akhlaknya atau peribadinya ialah Alquran” tapi dari situ kita dapat faham bagaimana kita ingin sedut atau ambil dan istinbat bahwa Alquran itu sebagai Syakhsiyah Muslim atau kita katakan Syakhsiyah Islamiyah dalam artikata sebenarnya.
Oleh itu kita dapati sekarang ini dimana-mana saja sebagaimana yang kita sebutkan sebelumnya sangat sukar untuk kita dapati suatu syakhsiyah yang lengkap sama ada pada individu dan juga pada jamaah atau masyarakat.
Jadi beberapa ulama telah mencoba menjelaskan atau menerangkan kembali Syakhsiyah Islamiyah ini ataupun keperibadian muslim dan muslimah. Dari itu untuk membentuk sifat-sifat, perilaku dan tindakan seseorang atau jamaah ataupun ummah supaya dengan itu terbentuk atau lahir satu syakhsiyah Islamiyah atau Syakhsiyah Muslim maka perlu ditentukan beberapa hubungan :
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan Allah swt
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan dirinya sendiri
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan dua ibu bapanya
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan isteri atau muslimah dengan suaminya
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan anak-anaknya
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan saudara mara atau keluarganya
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan jirannya
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan kawan-kawanya
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan masyarakatnya

kita perlu tentukan semua hubungan ini, bagaimana kita ingin berinteraksi dengan semua ini atau bagai mana seseorang itu ingin tentukan sikap atau tingkah lakunya terhadap semua perhubungan tersebut.
Jadi bilamana kita dapat lahirkan hubungan yang betul dengan apa yang kita sebutkan diatas maka barulah dapat melahirkan syakhsiyah-syakhsiyah ataupun Keperibadian Muslim dalam artikata yang sebenarnya mengikut apa yang telah ditunjuk oleh Al Quran Al Karim dan Sunnah rasulullah saw.
Disediakan oleh:
JH
Sumber: kitab Syakhsiyah Al Muslim ( Dr Muhammad Ali Hasyimi)

HINDARKAN SIKAP TASWEEF


ISLAM menganjurkan kepada penganutnya supaya bersegera dalam melakukan kebaikan dan ketaatan, serta dapat mendahulukan kepentingan yang utama ( aulawiyyat) daripada yang lainnya. Ini semuanya agar seorang muslim tidak tertipu dengan kenikmatan dunia yang terbatas dan melupakan kenikmatan akhirat yang tiada batas. Renungkanlah firman Allah SWT yang bermaksud :
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa ( Al Imran :133)
Janji yang tidak tertunaikan, amanah yang tidak tersempurnakan, tugas atau pekerjaan yang tidak terselesaikan, kerugian dan penyesalan, ini semua disebabkan oleh adanya sikap Tasweef serta tidak menggunakan sepenuhnya kesempatan dan masa yang diberikan. Bukanlah seseorang itu tidak cukup masa akan tetapi seseorang itulah yang sebenarnya tidak pandai menggunakan masa.

MAKNA TASWEEF
التأخير والمماطلة، يقال: سوَّف يسوف أي: أخر يؤخر، فتراه يؤجل العمل ولا يسرع في تنفيذه
''Mengakhirkan dan menunda-nunda, atau dikatakan tidak bersegera melaksanakan suatu pekerjaan''. Dan yang kita maksud disini adalah mengakhirkan atau menunda-nunda pelaksanaan suatu pekerjaan atau tuntutan tanpa ada keuzuran yang dibenarkan.
Sikap selalu menunda – nunda ini terkadang berlaku di berbagai bentuk dan sudut kehidupan. Janji yang di janjikan terkadang tidak di tepati pada waktunya bahkan terabaikan begitu saja. Tugas dan amanah terkadang di lengah - lengahkan sehingga banyak tugas- tugas yang terbengkalai dan banyak amanah yang tidak terlaksana.
Pelaku maksiat ('Ashi) atau seseorang yang punya kebiasaan buruk mungkin berkata : Aku akan bertaubat atau esok aku akan bertaubat. Akan aku tinggalkan atau setelah begini..begini…baru akan aku tinggalkan, hari demi hari berlalu namun tiada perubahan bahkan sampai kepada mautnya yang datang tiada disangka atau di jangka. Firman Allah SWT :
"Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertobat sekarang" Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih ''(An Nisaa' ayat : 18 ).
Dan sulit juga untuk dinafikan bahwa penyakit ini juga berjangkit kepada muslim yang menunda –nunda shalatnya di kala waktu telah tiba dan suara azdan telah bergema. Maka di sini akan nyata dikalangan hamba yang mementingkan kehendaknya daripada memenuhi panggilan Allah SWT Sang Pencipta. ''Lafaz Takbir (ALLAHU AKBAR) bukan hanya syiar yang di kumandangkan, akan tetapi ALLAHU AKBAR bermakna wahai akhi muslim : engkau menjadikan perkara dunia ini kecil di matamu yang besar hanyalah Allah SWTsemata. Sekiranya di hadapkan kepadamu harta benda, pangkat dan kedudukan, atau dunia dan seisinya yang menggoncangkan agama mu berpeganglah dengan agama mu dan Allah Maha Besar daripada harta kekayaan, Allah Maha Besar daripada kedudukan, dan Allah Maha Mesar daripada panggilan syahwat dan keinginan''.( dr Yusuf Al Qaradlawy)
Walau bagaimanapun shalat di awal waktu adalah perkara yang lebih afdlal, karena shalat merupakan tiang agama, orang yang sentiasa memelihara shalatnya mencerminkan kesuksesan dan kekukuhan agamanya.
وعن ابن مسعود رضى الله عنه قال: سألت رسول الله أيّ الأعمال أفضل؟ قال : الصلاة على وقتها. قلت: ثم أي؟ قال : بر الوالدين قلت: ثم أي؟ قال: الجهاد في سبيل الله". (متفق عليه).
Dari ibn Mas'ud ra. Dia berkata : aku bertanya kepada rasulullah saw. Apakah amalan yang paling afdlal ? rasul SAW menjawab : shalat pada awal waktunya, kemudian apa ya rasulallah? rasul SAW menjawab : berbuat baik kepada kedua ibu bapa, kemudian apa ? rasul SAW menjawab jihad fi sabilillah. ( Imam Bukhari, Imam Muslim )
DIANTARA SEBAB-SEBAB TIMBULNYA SIKAP TASWEEF
1.Keluarga yang kurang berdisiplin dan Berteman dengan orang-orang yang pemalas dan selalu berlengah-lengah.
قال صلى الله عليه وسلم :المرء على دين خليله, فلينظر أحدكم من يخالل (أبو داود و الترمذي)
Rasulullah SAW telah bersabda : "seseorang itu diatas anutan ( jejak ) temannya, maka hendaklah diantara kamu benar – benar meneliti dengan siapa dia berteman". (Riwayat Imam Abu Daud Dan Imam At tarmidziy)
2. Lemahnya kemahuan atau bermalas – malas diri. Ini termasuk jenis nafsu manusia yang buruk yang disebut ( An Nafs Ammarah Bis Suu') yang kecenderungannya memembawa manusia untuk suka berehat dan memngikuti keinginan syahwat, serta tidak suka kepada mujahadah dan sedikit kesusahan ( masyaqqah).
3. Panjang angan – angan serta lupa akan kematian dan hari akhirat.
''Ketahuilah olehmu bahwa seseorang yang akan menemui dua orang saudaranya yang satu akan ditemuinya esok hari dan yang satu lagi akan ditemuinya sebulan atau setahun lagi, tentu ia akan siap bersedia bagi menyambut saudaranya yang akan ditemuinya di esok”. Bersedia untuk perkara yang lebih dekat atau yang hampir.( Imam Al Ghazali )
''Sesungguhnya setiap manusia yang kluar dari rumahnya tidak mengetahui apakah ia kembali dalam keadaan hidup atau mati, ia keluar tidak mengetahui apakah ia kembali membawa atau ia yang dibawa. Sesungguhnya baju yang di pakai kamu tidak tahu apakah tanganmu yang akan melepaskannya atau terlepas di tangan si pemandi mayat''.( Yusuf Al Qaradlawy)
4. Menganggap ringan suatu perkara dan tidak mengambil berat kepada perkara yang utama ( aulawiyyat). ''sebenarnya setiap musibah yang menimpa seorang hamba di sebabkan oleh tindak kejahatannya, maka seringkali hamba yang meringan-ringankan perkara akhirat dan ia juga takut siksaan Allah di dunia kebanyakan disebabkan kecuaian dan kebodohannya"( Imam Al Ghazali).
SEBAHAGIAN KESAN DAN BAHAYA TASWEEF
1.Kerugian dan penyesalan pada waktu dimana disana tiada lagi berguna penyesalan. Firman AllahSWT:
''Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin ''( As Sajdah : 12).
''Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh''.( Al Munafiqun : 10)
"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong ( lagi )". ( Azzumar : 54).
2. Menumpuk dosa dan pekerjaan , sehingga sukar baginya untuk bertaubat begitu juga dalam menyelesaikan pekerjaan.
3.Terdinding daripada bantuan dan petunjuk Allah SWT, karena Allah SWT tidak akan memberi bantuan dan petunjuk bagi mereka yang bermalas- malas. Dan bantuan Allah swt akan diberikan kepada orang-orang yang punya mujahadah mendekatkan diri kepadaNya. Firman AllahSWT :
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik".( Al Ankabut : 69).
PENCEGAHAHAN SIFAT TASWEEF
1.Perlunya pengawalan diri dan punya 'Azam yang kuat. Tiada hari tanpa amal kebaikan karena di akhirat tiada lagi amal melainkan balasan. Letih dan penat hari ini untuk berehat di esok hari lebih baik bagimu daripada berehat hari ini dan berpenat letih di esok hari.
2.Menjauh daripada teman pemalas dan suka bertangguh - tangguh. Perhatikanlah hadits SAW :
"مثل الجليس الصالح والجليس السوء، كحامل المسك ونافخ الكير، فحامل المسك إما أن يحذيك وإما أن تبتاع منه، وإما أن تجد منه ريحاً طيبة، ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد منه ريحاً خبيثة"( متفق عليه)
yang bermaksud ''perumpamaan berteman dengan orang yang shaleh dan tidak shaleh adalah seumpama pembawa minyak wangi dengan seorang pandai besi, sama ada pembawa minyak wangi akan memberimu atau kamu membeli darinya ataupun kamu hanya mendapatkan keharumannya. Sedangakan seorang tukang pandai besi sama ada akan membakar pakaianmu ataupun kamu terhidu bau yang tidak sedap.
3. Selalulah ingat kematian dan hari akhirat. Kematian itu akan datang dengan tiba –tiba. Maka bersegeralah dalam beramal shaleh. Rasul SAW bersabda :
وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لرجل وهو يعظه :"اغتنم خمسا قبل خمس : شبابك قبل هرمك ، وصحتك قبل سقمك ، وغناك قبل فقرك ، وفراغك قبل شغلك ، وحياتك قبل موتك " رواه الحاكم .
Dari Ibn Abbas RA. Ia berkata: telah berkata rasulullah SAW kepada seorang lelaki seraya mengingatkannya: rampaslah yang lima sebelum datang yang lima: masa muda mu sebelum datng masa tua mu, masa sehat mu sebelum datang masa sakit mu, masa kaya mu sebelum datang masa fakir mu, masa lapang mu sebelum datang masa sibuk mu, masa hidup mu sebelum datang kematian mu. ( Riwayat Imam Al Hakim ).
وعن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال : " خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا أيها الناس توبوا إلي الله قبل ان تموتوا ، وبادروا بالإعمال الصالحة قبل ان تشغلوا ." رواه ابن ماجة .
Dari Jabir bin Abdullah RA. Ia berkata: telah berkhutbah rasulullah SAW di hadapan kami maka beliau SAW berkata: wahai manusia! Bertaubatlah kamu kepada Allah sebelum datang kematian mu, dan bersegeralah kamu melaksanakan amal – amal Shaleh sebelum datang masa sibuk mu. (Riwayat Ibn Majah).
Akhirnya, semua perubahan yang di inginkan bersumber dari dorongan jiwa ( dalaman ), jiwa yang lemah akan menghasilkan tindakan yang malas dan lambat, dan jiwa yang kuat akan menghasilkan tindakan yang cergas dan cepat. Firman Allah SWT dalam surah :
Sesungguhnya Allah tidak akan merobah sesuatu kaum sehingga kaum itu merubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri.
''perubahan pada suatu ummat tidak akan terjadi melainkan dengan merubah individu, perubahan tidak akan terjadi pada individu melainkan dengan merubah jiwa ( dalaman), dan perubahan jiwa tidak akan sempurna melainkan dengan tarbiyah dan takwin''. (Hasan Al Banna).
Sumber :
Alquran Al Karim, Hadits Nabi SAW.
Ihya' ulumuddin, imam Alghazali.-Khutab As Syeikh Al Qaradlawy, juzu' 7.-At Tasweef Fi Manzhuril Islami, Dr Nadiah Muhammad Sa'id. -Falnabda' bianfusina, Dr Majdi Hilali.
Di susun oleh :
JH

Saturday, March 20, 2010

Dunia Mihrab Ibadah


Pertamanya marilah kita terus-menerus bersyukur ke hadhirat Allah SWT kerana kita dipanjangkan umur dan diberi kesempatan lagi untuk meneruskan kehidupan di bumi Allah ini dalam rangka mengabdikan diri atau berubudiyah kepada Allah. Dan kita mengharapkan semoga hidup kita ini diberkati dan diredhai oleh Nya.
Untuk itu maka kita, sama ada individu, keluarga, masyarakat dan umat hendaklah membina kehidupan Islam dari semua sudut (aspek) : kita dikehendaki menjadi Muslim dari sudut aqidah, menjadi Muslim dari sudut ibadah, menjadi Muslim dari sudut akhlaq dan keperibadian, menjadi Muslim dari sudut aqal pemikiran dan cara berfikir, menjadi Muslim dari sudut sosial, mencari rezeki dan sebagainya.
Pendekkata seluruh aspek kehidupan kita hendaklah berada dalam acuan (shibghah) Islam, barulah nanti kehidupan kita seluruhnya mendapat keberkatan dan keredhaan Allah SWT.
Dan barulah hidup dan kehidupan kita seluruhnya menjadi ibadah kepada Allah dalam artikata sebenarnya, menepati firman Allah dalam ayat 56 Surah ad Dzariyaat :


Maksudnya: “ tidak Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah (memperhambakan diri) kepada Aku (Allah )“
Akhi Muslim Sekalian !
Apabila Allah SWT telah tentukan (tetapkan) bahawa matlamat dan tujuan manusia diciptakan oleh Allah SWT semata-mata untuk beribadah (berubudiyah ) (yakni memperhambakan diri) kepada Allah, maka dapat difahami bahawa pentas dunia adalah Mihrab tempat beribadah dalam artikata sebenarnya. Tempat untuk hamba-hamba Allah ini melaksanakan kerja-kerja, amalan-amalan, aktiviti-aktiviti dan program-program yang syar'i. (yang tidak berlawanan dengan hukum Syara', yakni hukum Allah SWT. Dan layak mendapat pahala atau ganjaran baik di sisi Allah SWT. Atas dasar ini maka tempat ibadah itu bukan semata-mata di masjid atau Mushalla sahaja, bahkan rumah-rumah, sekolah-sekolah, dewan-dewan, pejabat-pejabat, ladang-ladang, gedung-gedung perniagaan, kilang-kilang perusahaan, padang permainan, tempat rekreasi dan riadlah, tempat-tempat pelancongan, peranginan dan perkelahan serta kenderaan-kenderaan dan sebagainya akan menjadi ‘Mihrab‘ (tempat ibadah kepada Allah) dan mendapat pahala atau ganjaran baik di sisi Allah sekiranya digunakan dan diurus dengan cara yang dikehendaki oleh ‘Syara' (atau tidak berlawanan dengan hukum ‘ syara‘ – hukum Allah SWT), bahkan diberi keberkatan serta perlindungan oleh Allah SWT. Perhatikanlah firman Allah dalam al Quran ayat 55 Surah an Nuur :



Maksudnya: “ Allah SWT. telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman diantara kamu serta orang-orang yang beramal Shaleh bahawa mereka akan diberi warisan kekuasaan di muka bumi ini sepertimana telah diberikan kepada orang-orang sebelum mereka dan akan diteguhkan kedudukan Din (jalan hidup mereka) yang telah diredhai untuk mereka, juga (Allah SWT. ) akan gantikan suasana ketakutan mereka dengan suasana keamanan. Mereka memperhambakan diri (beribadah) kepada Aku (yakni kepada Allah) dan tidak melakukan sebarang syirik terhadapKu (Allah) dengan sesuatu jua. “
Akhi Muslim!
Konsep dan Tasawur dunia atau bumi ini sebagai ‘Mihrab‘ (tempat ibadah – memperhambakan diri kepada Allah) bukan ajaran baru, tetapi itulah hakikat ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan telahpun terbentuk suatu jamaah bahkan umat yang benar-benar menghayati 'ubudiyah (pengabdian) kepada Allah dalam semua aspek kehidupan mereka iaitu lahir generasi awal Islam di bawah pimpinan dan bimbingan Rasulullah SAW di zaman Madany berpusat di Madinah Al munawwarah bahkan lahir pemerintahan yang melaksanakan hukum-hukum yang diwahyukan oleh Allah SWT.
Akhi Muslim!
Sewajarnya apabila kita telah menganut Islam – menjadi orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, maka hidup kita mestilah mengikut cara hidup Islam dalam semua bidang dan semua hal dan sekaligus mengketepikan cara hidup serta budaya hidup yang tidak Islamik. Hendaknya kita sedar bahawa dalam kehidupan di dunia ini terdapat banyak golongan manusia dengan cara dan matlamat hidup masing-masing. Sehubungan dengan itu Mujahid Islam Fathi Yakan dalam kitabnya ‘ Madza Ya'ni Intima'i Lil Islam‘ telah membahagikan manusia kepada tiga (3) golongan :
Pertama : Golongan yang hidup untuk dunia semata-mata.

Mereka ini adalah golongan yang berfaham kebendaan. Golongan tersebut digelar ‘Addahriyyun‘. Mereka tidak beriman adanya Hari Qiamat (Hari Akhirat). Hal mereka itu telah dijelaskan Allah SWT dalam al Quran ayat 29 Surah al An’aam :


Maksudnya: “ Dan mereka telah berkata : Tidak ada kehidupan melainkan kehidupan kita di dunia ini sahaja dan kita tidak akan dibangkitkan kembali (setelah mati). “

Kedua : Golongan yang sesat diantara dunia dan akhirat.

Golongan ini mengaku beriman, tetapi sesat dalam amalan dan aktiviti hidup mereka sedang mereka menyangka bahawa mereka melakukan kebaikan. Sehubungan ini al Quran telah menjelaslan dalam ayat 103 – 104 Surah al Kahfi:


Maksudnya: “ Katakanlah. Mahukah Kami (Allah) beritahu kepada kamu keadaan orang-orang yang amat rugi amalan mereka. Iaitu orang-orang yang sesat (sia-sia) usaha mereka dalam kehidupan di dunia ini sedangkan mereka menyangka bahawa mereka melakukan usaha-usaha (kerja-kerja) yang baik. “

Ketiga : Golongan Mukmin sebenarnya yang menganggap dunia ini ibarat ladang untuk akhirat

Mereka ini mengetahui hakikat hidup dan nilai hidup di dunia berbanding dengan akhirat. Mereka benar-benar faham firman Allah SWT dalam ayat 32 Surah al An’aam :


Maksudnya: “ Kehidupan dunia ini tiada lain melainkan (ibarat) permainan dan senda gurau sahaja. Sedangkan kampong akhirat (tempat tinggal di Hari Akhirat) itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa. Apakah anda semua tidak memikirkan hal tersebut?.

Bagi orang-orang yang yakin bahawa dunia ini ibarat ladang untuk Hari Akhirat, mereka anggap dunia ini juga satu medan perlumbaan untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT serta mencari keredhaanNya (mardlatillah) semata-mata. Seluruh hidup mereka diwaqafkan untuk kerja-kerja Islam –Khidmah Dinillah -, ilmu pengetahuan, kepakaran, kemahiran, hartabenda, tenaga mereka dicurahkan bagi mencapai keredhaan Allah SWT.



Maksudnya:''Dan diantara manusia ada orang yang mengorbsnksn dirinya karena mencari keredlaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambanya''.( Surah Al Baqarah ayat 207).
Akhi Muslim!
Hidup sebagai Muslim Mukmin yang bertaqwa kepada Allah adalah suatu tuntutan Allah (Taklip Rabbani). Kita dituntut membuang aqidah-aqidah yang lain, hanya dikehendaki mengambil pakai aqidah Islam sahaja – aqidah Iman dan Tauhid kepada Allah SWT semata-mata. Dikehendaki kita beribadah hanya kepada Allah s.w.t sahaja., dikehendaki berakhlaq dengan akhlaq Islam sahaja, dikehendaki mengikut Jalan Islam sahaja – jalan yang diberi jaminan dan diredhai oleh Allah SWT, kita dikehendaki buangkan fikrah-fikrah yang lain, hanya ambil pakai Fikrah Islam sahaja, kita dikehendaki waqafkan segala tenaga dan usaha kita untuk Islam, agar Islam kembali berkuasa. Allah SWT telah berjanji untuk memnbeli jiwa raga dan hartabenda orang-orang Mukmin dengan bayaran yang amat mahal iaitu ‘Al Jannah‘ (Syurga Allah di Hari Akhirat). Firman Allah dalam ayat 111 Surah at Taubah :


Maksudnya: “ Bahawa sesungguhnya Allah SWT membeli daripada orang-orang Mukmin itu diri dan hartabenda mereka dengan menganugerahkan ‘AL Jannah‘ (syurga) untuk mereka (sebagai ganjarannya). “
Akhi Muslim!
Marilah kita beriman dan penuh yakin kepada janji Allah SWT. Syurga adalah ganjaran baik bagi orang Mukmin yang taat serta iltizam terhadap ajaran Allah SWT– ‘Al Jannah‘ (Syurga Allah di Hari Akhirat) itu adalah termasuk di dalam perkara-perkara ghaib (Al umur ghaibiyah) yang tidak dapat dijangkau dengan aqal semata-mata, tetapi dijangkau dengan keImanan yang teguh kepada Allah SWT kerana aqal manusia amat terbatas, tidak dapat mengetahui perkara-perkara yang ghaib melainkan diberitahu melalui wahyu Allah SWT yang telah disampaikan kepada RasulNya. Dan Allah SWT menjadikan Iman terhadap perkara-perkara ghaib itu salah satu daripada ukuran serta pengenalan bagi mengenal orang-orang yang bertaqwa (AlMuttaqin). Firman Allah :


(Surah al Baqarah ayat 2 hingga 5)
Maksudnya: “ Itulah kitab (al Quran) yang tiada sebarang keraguan di dalamnya. Menjadi pertunjuk (bimbingan) bagi orang-orang yang bertaqwa ; iaitu orang-orang yang beriman terhadap perkara ghaib (seperti hal-hal yang berlaku di Hari Akhirat) dan mereka yang mendirikan solah serta memberi infaq (Infaq fi sabilillah) sebahagian rezeki yang Kami (Allah) kurniakan. Dan orang-orang yang berIman kepada wahyu yang telah diturunkan kepada engkau (Nabi Muhammad SAW) juga wahyu yang telah diturunkan (kepada Rasul-rasul) sebelum engkau. Juga mereka yang beriman (penuh yakin) adanya Hari Akhirat. Mereka itulah orang-orang yang berada di dalam Hidayah Allah dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kejayaan (kebahagiaan) (di sisi Allah SWT).
''wassalam''
JH
Sumber rujukan
. ماذا يعنى إنتمائى للاسلام - فتحى يكن
. طريق الدعوة – مصطفى مشهور

HADITH: MENGENAI NIAT


عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب (رضي الله عنه) قال: سمعت رسول الله (صلى الله عليه وسلم) يقول: "إنما الأعمال بالنيات و إنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله، فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها، فهجرته إلى ما هاجـر إليه". (رواه إماما المحدّثين: أبو عبدالله محمـد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبه البخاري الجعفي، وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة).
Maksudnya:

“Daripada Amirul Mukminin Abu Hafsin 'Umar ibn al-Katthab r.a. beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

Bahawa sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat, dan bahawa sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya menuju kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang hijrahnya kerana dunia yang dia mahu mencari habuannya, atau kerana seorang perempuan yang dia mahu kahwininya, maka hijrahnya ke arah perkara yang ditujuinya itu.

Hadis ini diriwayat oleh dua orang Imam Ahli Hadis; Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Barzirbah al-Bukhari dan Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj ibn Muslim al-Qusyairie al-Naisaburi dalam kitab sahih mereka berdua yang merupakan antara kitab yang paling sahih”

Hadis ini adalah salah satu hadis utama dalam lslam.

Keterangan hadith:

1. Niat adalah penting untuk membezakan antara ibadat dengan adat. Niat itu penting untuk membezakan antara amalan yang ditujukan kepada Allah atau kepada yang lain selain Allah.
2. Ibadah, seperti solah dan puasa, wajib diniatkan kepada Allah agar diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala.
3. Perkara atau amalan yang diharuskan oleh syara’ jika ditujukan kepada Allah akan menghampirkan seseorang dengan Allah dan akan diberi pahala serta dikira sebagai ibadah. Contohnya, makan minum, memberi nafkah kepada anak/isteri, bergaul dengan isteri – akan dikira ibadah sekiranya dilakukan untuk mendapatkan keredhaan Allah.

Pengajaran-pengajaran:

1. Niat adalah teras segala amalan. Amalan baik mesti disertakan niat yang baik.
2. Amalan yang buruk tidak membawa apa-apa faedah walaupun dilakukan dengan niat yang baik.
3. Amalan yang dianggap baik tetapi dijalankan tidak mengikut aturan syara', tidak membawa apa-apa faedah walaupun dilakukan dengan niat yang baik.
4. Demikian juga, amalan baik jika diniatkan bukan kerana Allah, seperti kerana riya', menunjuk-nunjuk atau kerana suatu tujuan duniawi, maka ia tidak memberikan apa-apa faedah.
5. Ulama ada berkata: Boleh jadi suatu amalan kecil menjadi besar kerana niat dan suatu amalan yang besar menjadi kecil kerana niat.
6. Sesuatu amalan dibalas berdasarkan niat pelakunya.
7. Hijrah adalah suatu peristiwa besar dalam lslam di mana umat lslam diperintahkan berhijrah. Sesiapa yang berhijrah kerana Allah dan RasulNya, dia akan dikurniakan pahala besar, sebaliknya jika kerana dunia atau perempuan, maka dia hanya mendapat apa yang diniatkannya.
8. Walaupun hijrah sudah tiada lagi, namun hijrah dengan makna meninggalkan maksiat kepada melakukan taat juga dianggap hijrah yang akan dikurniakan pahala.


(Dari Hadith Arbain, Imam Nawawi)
Related Posts with Thumbnails