
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sahabat2 sekalian ya dirahmati Allah swt !
Pertama-tama dan buat selama -lamanya marilah kita merafa’kan syukur yang setinggi-tingginya kehadhirat Allah swt karena dengan limpah karunia dan izinNya kita masih mendapat peluang untuk mengecapi nikmat kehidupan. Yang mana hidup ini sendiri adalah merupakan suatu nikmat yang patut kita syukuri, karena dengannya kita masih memiliki kesempatan untuk menambah bekalan pulang menghadap Allah swt. Walaupun kehidupan di dunia ini hakikatnya terlalu singkat dan sekejap akan tetapi sangat menentukan bahagia atau tidaknya kita kelak di akhirat.
Seterusnya shalawat dan salam sentiasa kita hadiahkan keharibaan junjungan kita nabi besar Muhammad saw.
Pada kesempatan yang berbahagia ini ana ingin menyentuh beberapa perkara yang berkaitan dengan Syakhsiyah Muslim atau dalam bahasa kita di sebut dengan Keperibadian Muslim.
Memang kalau kita lihat kepada masyarakat kita hari ini sama ada dia bersifat masyarakat ataupun sebagai anggota-anggota masyarakat itu sendiri yang terdiri daripada orang-orang islam, bukanlah kita ingin cuba menafikan sesuatu yang mungkin, kalau sekiranya diteliti halus-halus dan dibandingkan dengan apa yang telah ditunjuk ataupun dijelaskan dan ditarbiyahkan oleh junjungan kita Muhammad saw terhadap para sahabat ra maka kita dapati dari segi syakhsiyah ini sama ada dari segi syakhsiyah jamaiyah atau dari segi syakhsiyah fardiyah memang didapati berbeza, dan mungkin sukar pada masakini kita ingin dapati sama ada jamaah atau individu suatu syakhsiyah yang menepati kehendak Din Islam.
Dan ini tidaklah aneh karena kita tahu bahwa dari segi sejarah kita dapati bahwa umat islam itu sendiri melalui berbagai-bagai keadaan dan pergulatan. Dan kita tahu juga bahwa musuh-musuh islam sentiasa berusaha dan merancang merusak umat islam itu sendiri khususnya dari segi syakhsiyahnya.
Jadi, bilamana umat islam dan juga anggota-anggota dalam masyarakat, keluarga itu sendiri tidak memiliki Syahksiyah Islamiyah dalam arti sebenarnya maka timbullah keadaan-keadaan atau permasalahan-permasalahan dalam kehidupan umat islam itu sendiri.
Masing-masing mentafsirkan Syakhsiyah mengikut pendapat atau fikiran masing-masing, ‘’ini orang bersyakhsiyah’’, ‘’orang ini bagus pandai bergaul, boleh bercampur dalam macam-macam keadaan dan suasana’’, ada pula yang melihat ‘’orang ini wara’ punya syakhsiyah tinggi’’, ada pula yang menilai “ini orangnya ibadahnya kuat sembahyang tahjjud selalu, dan macam-macam lagi penilaian dalam menilaikan Syakhsiyah dengan penilaian dan selera masing-masing.
Jadi,gambaran Syakhsiyah Islamiyah yang sebenarnya itu tidak jelas, kecuali manakala kita kembali melihat kepada junjungan kita Muhammad saw dan para shahabat ra maka barulah kita akan nampak dari segi kejelasan Syakhsiyah Islamiyah dalam arti kata sebenarnya. Adakah kita hanya ingin lihat dari sudut ibadat semata-mata, atau dari sudut pergaulan, percakapan, pakaian Sebab itu bilamana Sayyidatuna ‘Aisya ra ditanya bagaimana akhlaq ataupun syakhsiyah rasul saw, maka Sayyidatuna ‘Aisyah dengan ringkas menjawab ‘’khuluquhu Alquran’’ akhlaknya atau peribadinya ialah Alquran Al Karim.
Walaupun jawapan Sayyidatina ‘Aisyah amat ringkas ‘’Akhlaknya atau peribadinya ialah Alquran” tapi dari situ kita dapat faham bagaimana kita ingin sedut atau ambil dan istinbat bahwa Alquran itu sebagai Syakhsiyah Muslim atau kita katakan Syakhsiyah Islamiyah dalam artikata sebenarnya.
Oleh itu kita dapati sekarang ini dimana-mana saja sebagaimana yang kita sebutkan sebelumnya sangat sukar untuk kita dapati suatu syakhsiyah yang lengkap sama ada pada individu dan juga pada jamaah atau masyarakat.
Jadi beberapa ulama telah mencoba menjelaskan atau menerangkan kembali Syakhsiyah Islamiyah ini ataupun keperibadian muslim dan muslimah. Dari itu untuk membentuk sifat-sifat, perilaku dan tindakan seseorang atau jamaah ataupun ummah supaya dengan itu terbentuk atau lahir satu syakhsiyah Islamiyah atau Syakhsiyah Muslim maka perlu ditentukan beberapa hubungan :
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan Allah swt
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan dirinya sendiri
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan dua ibu bapanya
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan isteri atau muslimah dengan suaminya
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan anak-anaknya
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan saudara mara atau keluarganya
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan jirannya
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan kawan-kawanya
Bagaimana hubungan seorang muslim dengan masyarakatnya
kita perlu tentukan semua hubungan ini, bagaimana kita ingin berinteraksi dengan semua ini atau bagai mana seseorang itu ingin tentukan sikap atau tingkah lakunya terhadap semua perhubungan tersebut.
Jadi bilamana kita dapat lahirkan hubungan yang betul dengan apa yang kita sebutkan diatas maka barulah dapat melahirkan syakhsiyah-syakhsiyah ataupun Keperibadian Muslim dalam artikata yang sebenarnya mengikut apa yang telah ditunjuk oleh Al Quran Al Karim dan Sunnah rasulullah saw.
Disediakan oleh:
JH
Sumber: kitab Syakhsiyah Al Muslim ( Dr Muhammad Ali Hasyimi)




